PATUNG BUNG KARNO, KARYA SENI BERNILAI SEJARAH - wiwiriwu #Attribution1 { height:0px; visibility:hidden; display:none }
Headlines News Wiwi Riwu :
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Home » » PATUNG BUNG KARNO, KARYA SENI BERNILAI SEJARAH

PATUNG BUNG KARNO, KARYA SENI BERNILAI SEJARAH

PATUNG BUNG KARNO, KARYA SENI BERNILAI SEJARAH Setiap seniman akan merasa puas dan bangga jika hasil karyanya bermanfaat dan dapat dinikmati oleh orang lain. Apalagi, kalau karya seni dimaksud mampu memberikan nilai lebih bagi warga satu bangsa. Perasaan puas, bangga dan terharu itu benar-benar dirasakan Hanafi , pembuat patung Bung Karno, yang sedang merenungkan Pancasila dibawah pohon sukun di taman Rendo Kabupaten Ende. Selain sebagai sebuah karya seni, kata Hanafi ,hasil karyanya itu memilki nilai sejarah yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. “Saya puas dan bangga dengan diresmikannya karya ini oleh Wapres. Ini merupakan satu kehormatan yang luar biasa bagi saya dan seluruh tim kerja patung Bung Karno. Mudah-mudahan karya kami ini memberi manfaat bagi keutuhan bangsa Indonesia, sesuai dengan cita-cita luhur Bung Karno,”kata Hanafi setelah wakil presiden RI Boediono membuka selubung dan menekan tombol sirene tanda diresmikannya Monumen Perenungan Pancasila oleh Boediono,”Sabtu (1/6). Ditengah gegap gepita peresmian Monumen perenungan Lima Butir Pancasila dan ketatnya pengawalan terhadap perayaan Hari Lahir Pancasila 1 Juni di Lapangan Pancasila Ende, sang pematung yang telah bekerja selama satu tahun lebih ini nyaris tak tampak. Tidak banyak orang yang tau siapa sosok dibalik maha karya yang telah mengundang pujian sekian banyak warga Kabuapten Ende, bahkan masyarakat Indonesia ini. Tampak patung yang baru diresmikan ini, Bung Karno muda ( pada usia 32 - 33 tahun) duduk merenung dan, menurut Hanafi, masih ada ornament lainnya yang akan mendukung suasana hening saat Bung Karno merenung, yakni kolam berukuran 8 meter x 45 meter. Diatas kolam ada bangku sepanjang 17 meter sebagai tempat duduk Bung Karno, tambahan ini merupakan hasil elaborasi seni rupa dengan para arsitek. Hanafi, lelaki asal Purwerejo, Jawa Tengah, ini tidak diperkenalkan diatas panggung besar berkarpet merah yang dihadiri oleh banyak pejabat di republik tercinta ini. Ia juga tidak disebut-sebut sebagai orang yang telah memberikan andil bagi suksesnya acara peresmian patung Bung Karno di tempat dimana Pancasila sebagai Dasar dan Falsafah bangsa ini dikandung. Hanafi mengkin sudah puas, bangga dan merasa terhormat ketika karyanya bisa di nikmati oleh seluruh bangsa. Hanafi telah bekerja keras agar upacara kenegaraan yang menghadirkan Wakil Presiden Boediono, Ketua MPR RI, Taufiq Kiemas, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhamad Nuh, Anggota MPR, Anggota DPR RI, Gubernur, Bupati serta berbagai elemen di negeri ini berlangsung sukses. Sebagai seorang seniman, Hanafi mungkin tidak pernah berpikir untuk dikenal banyak orang. Dia sungguh bekerja tanpa pamrih untuk menghadirkan sosok sang penemu Pancasila, yang telah berjuang memerdekakan negeri ini dari penjajah. Semua kita mungkin berpikir, bahwa karya Hanafi ini sudah cukup diingat lewat kontrak yang diterimanya bersama tim kerja. Hanafi, rupanya sosok seniman yang kerja dalam diam, sama seperti karyanya, Patung Bung Karno merenung sendirian dibawah pohon sukun di taman Rendo. Meski Patung Bung Karno telah 3 pekan berada di Ende sebelum diresmikan, namun sang pematung selalu mengelak ketika hendak ditemui awak media di daerah ini. Ia beralasan kerjanya belum tuntas. Sabtu 1 Juni 2013, setelah Wapres Boediono menekan tombol peresmian, barulah Hanafi mau berbicara kepada media. Itupun sangat singkat. Hanafi mengaku Patung Bung Karno dikerjakan selama 1 tahun penuh. Pengerjaan dilakukan bersama para Arsitek dan sejumlah pihak lainnya. Enam bulan pertama merupakan bagian konstruksi, enam bulan berikutnya adalah pencetakkan perunggu, pengecoran dan penyelesaian kata Hanafi. Saat pembuatan patung Bung Karno, ia bersama timnya sangat hati-hati banyak hal yang mesti dipertimbangkan agar patung ini bisa mewakili apa yang terjadi pada tahun 1934 -1938, saat Bung Karno diasingkan di Ende. Menurut Hanafi, yang paling utama dalam pembuatan patung perenungan Bung Karno bukanlah kemiripan wajahnya dengan Bung Karno yang asli. Sebab, katanya, Bung Karno dikenal sebagai pribadi yang memilki “banyak wajah” sesuai dengan situasi jiwa dan sprit perjuangan. Wajah Soekarno akan tampak selalu berbeda dalam berbagai momen perjuangan, dan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik secara alami. “ Jadi, untuk membuat patung ini, bukan kemiripan yang di kejar, tapi karakter jiwa dan sprit perjuangan yang ada pada diri Bung Karno saat itu. Untuk patung ini, kita perkirakan usia beliau sekitar 32 tahun. Patung ini kita buat di Jakarta dan pengecorannya dilakukan di Yogya,”kata Hanafi. Sebelum mengakhiri pembicaraannya dengan Flores Pos, Hanafi menitipkan pesan bagi generasi bangsa ini untuk sungguh-sungguh memaknai karya perjuangan para pendiri bangsa Indonesia, termasuk nila-nilai luhur Pancasila. Ia berharap, peresmian Monumen Perenungan Bung Karno dibawah pohon sukun di Ende ini menjadi Momentum bagi seluruh anak negeri untuk kembali kepada falsafah Pancasila.(Anton Harus ) Sumber : Flores Pos
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Nosi Mbeo Website | Elpas Template | Eja Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. wiwiriwu - All Rights Reserved
Original Design by